Produksi Freeport Anjlok

Produksi konsentrat tembaga PT Freeport Indonesia tahun ini mengalami penurunan akibat kandungan tembaga di tambang sudah menipis. Ini bertepatan dengan dimilikinya 51 persen saham Freeport oleh Indonesia.Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM), Bambang Gatot mengatakan, pendapatan Freeport Indonesia tahun ini akan menurun, akibat produksi tembaga di tambang terbuka Grasberg menurun karena kandungan mineralnya sudah habis.”Saya nggak mau menyebutkan angka yang jelas itu turun dari 2018. Jadi EBITDA dan revenuenya turun,” kata Bambang, di Kantor Direktorat Jenderal Minerba, Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu (9/1).Bambang mengungkapkan, penurunan produksi tidak disebabkan penghentian kegiatan pertambangan, tetapi peralihan penambangan ke tambang bawah tanah. Saat ini kegiatan penambangan bawah tanah sudah dimulai namun belum optimal.”Nggak berhenti operasi tapi continues. Yang sekarang bawah tanah sudah beroperasi karena cadangan di bawah tanah kelanjutan mineralisasi yang di atas tadi,” jelasnya.Menurut Bambang, produksi mineral tembaga Freeport Indonesia akan kembali naik hingga 2025 sebagai tahun puncak produksi. Namun dia belum bisa menyebutkan kenaikan produksinya.”Bukan karena tambangnya berhenti bukan masalah cadangan kadar karena proses yang belum dimulai, tapi2020 dia naik lagi 2021 terus naik sampai 2025 dia stabil,” tandasnya.

Share this on

Tentang Pengarang

KOMENTAR

4 − 1 =