Diaspora Indonesia Punya Dua Juta Suara

Menurut komisi pemilihan umum (KPU), jumlah pemilih Diaspora Indonesia ternyata mencapai dua juta pemilih dalam pemilu 2019. Jumlah suara Diaspora sanggup menandingi suara di dapil DKI Jakarta 2 yakni Jakpus dan Jaksel.
Tetapi siapa caleg yang mau membawa dan memperjuangkan aspirasi Diaspora Indonesia di Dewan Perwakilan Rakyat?Atas dasar itu, pada Selasa (12/2), Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) menggagas program berbasis digital Diaspora KYC “Know Your Caleg”. Program ini bertujuan untuk mengatasi tantangan partisipasi Diaspora Indonesia dalam penyelenggaraan Pemilu 2019.“Yang menarik, jumlah pemilih Diaspora Indonesia ini lebih besar dari pemilih di sejumlah provinsi seperti Kalimantan Utara, Papua Barat, Kalteng, Maluku, dan Maluku. Kalau ada kota Diaspora, itu akan jadi kota kedua terbesar di Indonesia,” kata Ketua Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) dan Pendiri Gerakan Diaspora Indonesia Dino Pattti Djalal.Oleh karena itu, FDCI akan bertindak sebagai fasilitator yang netral dan tidak bias kepada pihak manapun. Program Diaspora KYC hanya dilakukan untuk pemilihan Caleg Dapil 2 DKI dan bukan untuk pemilihan presiden. Lewat situs khusus www.calegdiaspora.org, seluruh Diaspora di manapun dapat mengaksesnya untuk mengenal caleg yang memperhatikan aspirasi Diaspora Indonesia. Di situs itu, sekitar 105 caleg dari puluhan partai bisa memaparkan solusi atas masalah dan isu-isu Diaspora.Menurut Dino, inisiatif “Diaspora KYC” bisa dilakukan untuk meningkatkan rasa keterwakilan Diaspora dan para caleg dapil DKI 2. Di sisi lain, para caleg juga bisa memposisikan diri sebagai “Caleg Diaspora”.“Para Caleg harus memposisikan diri mereka sebagai worthy of dari sebutan Caleg Diaspora, sementara pemilih Diaspora akan merasa memiliki calegnya sendiri di DPR. Ini akan meningkatkan kualitas demokrasi sekaligus mereformasi sistem pemilu agar lebih responsif bagi kepentingan Diaspora,” kata Dino.Dino menambahkan sejak dulu, Diaspora ingin perjuangan dapil khusu. Sebagai komunitas besar, Diaspora mau dihitung sendiri dan bukan digabung dengan kota lain. Para Diaspora merasa keberadaannya dalam pemilu hanya formalitas semata.“Banyak Diaspora tidak kenal calegnya. Tapi ini bisa dimengerti. Diaspora itu kan ada di Afsel dan Basil, nggak mungkin caleg ke sana. Kalaupun kaya setinggi langit, nggak mungkin dikunjungi. Yang jelas, jaarakgeografis itu juga menimbulkan jarak politis dan jarak psikologi,” tambahnya.

Share this on

Tentang Pengarang

KOMENTAR

9 + 20 =