Stok Bawang Putih di DKI Menipis, Hanya Cukup Sampai Awal Maret

Stok bawang putih yang dimiliki badan usaha milik Pemprov DKI, PT Food Station Tjipinang Jaya, tinggal sekitar 1.000 ton. Stok bawang putih tersebut diperkirakan hanya cukup sampai awal Maret 2019, tidak cukup untuk stok pada bulan Ramadhan. “Di Food Station ada sekitar 1.000 ton, 38 kontainer. Ini sampai dengan akhir Februari, awal Maret,” ujar Direktur Utama PT Food Station Tjipinang Jaya Arief Prasetyo Adi di Toko Tani Indonesia Center, Jakarta Selatan, Minggu (9/2/2020). Dengan menipisnya stok bawang putih di PT Food Station Tjipinang Jaya, Arief berharap Kementerian Pertanian (Kementan) segera menerbitkan rekomendasi impor produk holtikultura (RIPH).Dengan demikian, PT Food Station Tjipinang Jaya bisa mendapat surat persetujuan impor (SPI) dari Kementerian Perdagangan untuk mengimpor bawang putih. “Memang harus segera diputuskan untuk dikeluarkan RIPH dan SPI dari dari Kemendag,” kata Arief. Arief juga berharap PT Food Station Tjipinang Jaya bisa mendapatkan kloter pertama untuk mengimpor bawang putih pada tahun ini. PT Food Station Tjipinang Jaya membutuhkan stok bawang putih untuk menstabilkan harga komoditas pangan tersebut di pasar. “Kami punya stok untuk stabilisasi. Kami meminta didorong dapat batch pertama karena Food Station ini sebagai penyeimbang,” ucap Arief. Berdasarkan info di situs web infopangan.jakarta.go.id, harga bawang putih mencapai Rp 57.812 per kilogram. Badan Ketahanan Pangan Kementan bersama Pemprov DKI Jakarta menggelar operasi pasar di 22 lokasi untuk menstabilkan harga bawang putih. Dalam operasi pasar tersebut, bawang putih dijual seharga Rp 30.000 kilogram. Selain bawang putih, operasi pasar tersebut menyediakan cabai merah dan cabai rawit. Harganya Rp 30.000 per kilogram untuk masing-masing komoditas. Harga tersebut lebih murah dibandingkan harga pasar, yakni harga cabai merah Rp 85.483 per kilogram, sementara cabai rawit merah Rp 82.741 per kilogram.

Share this on

Tentang Pengarang

KOMENTAR

five × one =