Mochtar Riady: “China Exit” Tidak Menguntungkan Perekonomian Global

Kebijakan melepaskan diri dari ketergantungan pada Tiongkok, atau disebut “China Exit”, bukanlah hal yang realistis atau menguntungkan bagi perekonomian dunia, demikian disampaikan Pendiri Lippo Group Mochtar Riady dalam seminar virtual yang digelar bersama oleh media bisnis Business China dan Fortune Times, Kamis (28/5/2020).Dalam seminar 90 menit yang digelar secara online (webinar) tersebut, Mochtar juga mengatakan bahwa Singapura akan mampu merevitalisasi ekonominya pasca-wabah virus corona jika negara tersebut bisa mentransformasi industri yang mulai redup (sunset industries) menjadi industri yang kembali cerah (sunrise industries) berbasis e-commerce.“Apakah ‘China exit’ akan efektif secara global? Saya tidak berpendapat kalau pemerintah Amerika Serikat punya visi yang bagus soal itu,” kata Mochtar dalam seminar bertajuk “New Challenges and Opportunities in the Post-Coronavirus World” (tantangan dan peluang baru dunia pasca-virus corona).Demi mengurangi ketergantungan kepada manufaktur Tiongkok, tiga tahun silam pemerintahan Donald Trump meminta Apple untuk mengalihkan produksi iPhone kembali ke AS. Namun, keputusan itu menjadi bumerang, kata Mochtar.“Meskipun sudah menginvestasikan lebih dari US$ 1 miliar, pabrik-pabrik iPhone di Foxconn kesulitan untuk menyesuaikan diri di daratan AS,” kata Mochtar, sembari menambahkan bahwa industri manufaktur AS tidak memiliki dukungan penting mata rantai pasokan dalam tingkat harga pasar yang kompetitif. Selain itu, para pekerja Amerika tidak setekun mereka yang di Tiongkok.Mochtar mengatakan dilema yang sama juga dihadapi produsen mobil listrik Tesla dan para produsen peralatan medis terkemuka seperti GE, Philips, dan Siemens, yang semuanya melakukan outsourcing manufaktur ke Tiongkok.Meskipun saat ini penanganan krisis virus corona menjadi prioritas teratas AS dan negara-negara sekutunya, pemerintahan Trump masih menginginkan agar mata rantai pasokan AS meninggalkan Tiongkok.Menurut sebuah berita yang diterbitkan Financial Times, sedikitnya 34 perusahaan Jepang yang beroperasi di Tiongkok sudah menyatakan minat untuk merelokasi usaha mereka dari Tiongkok.Pada Mei 2019, Kantor Perwakilan Dagang AS merilis daftar 3.805 kategori produk yang terkena tarif hingga 25 persen.Akibat dampak tarif AS pada produk-produk buatan Tiongkok, berbagai perusahaan Jepang mulai hengkang dari Tiongkok sementara perang dagang yang dimotori pemerintahan Trump makin memanas.Namun, Mochtar menilai bahwa memindahkan mata rantai pasokan dari Tiongkok ke negara-negara Asia Tenggara, misalnya Vietnam, bukanlah keputusan yang bijak.“Vietnam pada dasarnya adalah satu pabrik perakitan besar yang tidak memliki mata rantai pasokan selengkap Tiongkok,” ujarnya. Yang lebih penting lagi, Vietnam tidak memiliki talenta sebanyak Tiongkok.“Sejak Tiongkok mengadopsi kebijakan membuka diri, mantan pemimpin Tiongkok Deng Xiaoping mengirim 600.000 murid untuk belajar di luar negeri, khususnya di AS. Dengan melakukan itu, Tiongkok sekarang sudah mengirim 18 juta pelajar ke luar negeri dalam kurun waktu 30 tahun,” kata Mochtar.“Mata rantai pasokan tidak akan berfungsi di sebuah negara yang tidak memiliki talenta dalam jumlah yang memadai,” imbuhnya.Tentang dampak wabah Covid-19, Mochtar menyatakan keyakinannya bahwa wabah gelombang kedua bisa membawa dampak yang lebih dahsyat kepada perekonomian global.Awal pekan ini, pemerintah Singapura mengumumkan proyeksi PDB akan turun sebesar 4% hingga 7% tahun ini, dibandingkan prediksi sebelumnya yaitu kontraksi sebesar 1% – 4%, akibat suramnya permintaan ekspor. Artinya, perekonomian Singapura akan mengalami kontraksi terburuk sejak merdeka pada 1965.Namun, Mochtar menilai masih ada harapan untuk pulih.
“Singapura adalah pusat keuangan, transportasi, layanan kesehatan, dan perdagangan global yang sudah kondang. Sebagian besar industri yang menyandang posisi global seperti ini akan terus berjalan sebagai ‘sunrise industries’ pasca-wabah virus corona kelak,” kata Mochtar.“Namun, untuk ‘sunset industries’, seperti perdagangan retail, pihak berwenang perlu untuk membuat mereka tetap relevan dengan era yang baru sekarang.”Pemimpin Business China Lee Yi Shyan dan CEO Tin Pei Ling serta Pemimpin Redaksi Fortune Times Annie Song juga hadir sebagai pembicara dalam webinar tersebut.

Share this on

Tentang Pengarang

KOMENTAR

10 − six =