Mau Beli Dogecoin? Pertimbangkan 3 Hal Ini

Dogecoin tengah menjadi perbincangan lantaran harganya kian eksplosif. Dogecoin semakin terlihat menggiurkan karena cerita para investornya yang mendulang keuntungan. Harganya saat ini mencapai 60 sen, padahal sebulan lalu harganya hanya 1 sen. Melihat fenomena itu mengelilingimu setiap hari, kamu lantas ingin terjun juga karena takut ketinggalan. Tetapi perlu kamu ingat, dogecoin adalah salah satu bentuk mata uang kripto. Banyak investor kakap sering menasehati investor pemula agar berhati-hati ketika memutuskan berinvestasi di segala jenis mata uang kripto.Sebab, harganya amat fluktuaktif, bisa membuatmu cepat mendulang cuan, tapi bisa membuatmu tiba-tiba rugi. Nah, sebelum memutuskan beli, ada baiknya pertimbangkan 3 hal ini.
1. Curigai bahwa itu hanya gelembung
Sebelum membeli, coba curigai terlebih dahulu bahwa kenaikan tinggi dari dogecoin hanyalah gelembung (bubble) yang sebetulnya tidak bisa membantumu. Apa sebetulnya gelembung? Gelembung adalah nilai spekulatif. Sebuah instrumen bisa saja memiliki nilai tinggi karena ada spekulasi di pasar. Padahal nilai intrinsiknya amat rendah. Sebelum membeli, jangan berharap bahwa harganya akan terus naik dan tidak merugikan. Kamu juga harus jeli, mengingat dogecoin adalah produk yang dianggap jauh lebih berharga selama 1 tahun terakhir. Karena berharga inilah orang-orang akhirnya membeli dan memanfaatkan situasi untuk mendapatkan keuntungan. Meski demikian, kamu harus pelajari dulu ilmunya. Orang-orang yang membeli aset di harga tinggi biasanya percaya akan untung, dan bisa keluar sebelum harganya jatuh kembali. “Tapi padahal saat sebagian besar investor individu memasuki investasi yang meningkat, seringkali sudah terlambat,” kata seorang profesor keuangan di American University, Kent Baker mengutip CNBC, Minggu (9/5/2021).
2. FOMO bisa menjadi bumerang Jangan membeli hanya karena kamu FOMO (Fear of Missing Out) alias ikut-ikutan tren agar tak ketinggalan. Melihat orang mampu membeli rumah setelah investasi mata uang kripto, kamu lantas ingin mencobanya agar mendapat kesuksesan yang sama. Investor khususnya investor pemula, seringkali menjadi mangsa bias sosial dari digiring untuk melakukan investasi lebih banyak.
3. Belum tentu nilai sebenarnya Percayalah, kamu tidak akan mengetahui kenaikan dogecoin itu adalah nilai sebenarnya atau hanya nilai spekulatif. Menurut Bruce Mizrach, seorang profesor ekonomi di Sekolah Seni dan Sains Rutgers, memahami penilaian fundamental aset digital itu sangat rumit. Hal ini berbeda dengan saham. Saat berinvestasi di saham, kamu setidaknya bisa mendapatkan rasio harga terhadap pendapatan. Rasio ini memberi tahu bayangan berapa banyak investor yang bersedia membayar perusahaan untuk setiap rupiah dari pendapatan perusahaan tersebut. “Angka itu dapat membantu kamu menentukan apakah sebuah perusahaan sudah over atau undervalued. Tapi untuk dogecoin, kamu tidak tahu apa-apa,” ungkap Mizrach. Karena sangat baru, banyak orang yang kebingungan bagaimana cara membeli dan menjual mata uang kripto, cara menjaga token agar aman dari kerugian dan peretas, serta cara kerja pajaknya. Dengan pertimbangan hal-hal di atas, para ahli setuju bahwa sebaiknya investor tidak boleh berinvestasi lebih banyak di instrumen dogecoin daripada yang mereka sanggup untuk kehilangan. “Tidak ada makan siang gratis dalam berinvestasi. Dengan kata lain, return yang diharapkan lebih tinggi datang dengan risiko yang lebih tinggi pula. Harga mata uang kripto sangat tidak stabil, yang berarti sangat berisiko,” pungkas dia.

Share this on

Tentang Pengarang

KOMENTAR

19 − 4 =